Friday, August 20, 2010

Kenapa gigi sakit tidak boleh dicabut?


Sering sekali pasien bertanya, "Dok, kenapa gigi sakit tidak boleh dicabut?"
Beberapa dokter gigi berpendapat bahwa gigi yang sedang sakit tidak boleh dicabut karena dikhawatirkan akan menjadi sumber penyebaran infeksi. Oleh karena itu pencabutan seringkali ditunda dan pasien diresepkan obat-obatan antibiotik terlebih dulu (disebut premedikasi), setelah rasa sakit mereda baru gigi tersebut dicabut.
Gigi sudah berlubang besar (karies), apalagi disertai sakit yang sangat mengganggu,tidak bisa tidur, tidak bisa makan, dan berbagai macam keluhan lainnya, maka sebagian besar orang mungkin akan berpikir masalah akan selesai dengan datang ke dokter gigi dan meminta agar gigi tersebut dicabut saja. Atau jika sudah tidak sakit lagi ya dibiarkan saja, kan tidak ada keluhan apa-apa berarti gigi tersebut sudah sembuh. Namun sebetulnya tidak demikian.

Gigi yang berlubang akan menimbulkan sakit berdenyut kalau sudah mencapai ruang pulpa yang isinya adalah jaringan syaraf dan pembuluh darah. Bila tidak dirawat, infeksi bisa menyebar ke jaringan di bawah gigi dan menimbulkan abses. Abses berisi nanah, dan menyebabkan pembengkakan di gusi, atau pada kasus-kasus tertentu abses ini bisa besar sekali hingga pipi menjadi bengkak. Gigi yang sedang sakit dan mengalami abses tidak boleh langsung dicabut karena infeksi yang terjadi sedang dalam fase akut, biasanya disertai gejala demam. Rasa sakit dan abses harus diredakan dulu, dengan minum obat antibiotik menurut resep dokter. Pemberian antibiotik ditujukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya bakteremia (adanya bakteri dalam peredaran darah) dan difusi lokal sebagai akibat sekunder dari perawatan yang dilakukan. Menurut Peterson, sebenarnya fase akut bukan merupakan kontraindikasi pencabutan, namun sulitnya pasien membuka mulut cukup lebar saat adanya abses, dan sulitnya mencapai anestesi yang adekuatlah (rasa baal tidak tercapai dengan sempurna, sehingga pasien tetap merasa sakit)yang menyebabkan penundaan pencabutan gigi.
Minum obat penghilang rasa sakit yang dapat dibeli dengan mudah di toko obat atau apotik mungkin ampuh untuk mengusir rasa sakit yang menyiksa. Namun tidak menghilangkan infeksi yang terjadi pada gigi penyebab. Suatu saat rasa sakit mungkin akan timbul lagi, selama gigi penyebab tidak dirawat dengan tuntas.

(berbagai sumber)

Air Putih Dapat Berbahaya Bila Diminum Bayi Di Bawah Enam Bulan


Bayi berusia dibawah enam bulan sebaiknya jangan pernah diberikan air untuk diminum. Demikian yang diingatkan oleh para ilmuwan dari John Hopkins Children’s Center di Baltimore, Amerika Serikat, kepada para orang tua. Mengonsumsi air terlalu banyak dapat meningkatkan kondisi yang berbahaya pada bayi, atau yang disebut sebagai intoksikasi air.

Menurut dr. Jennifer Anders, seorang ahli kegawatdaruratan anak dari John Hopkins Children’s Center, walaupun bayi sangat kecil, mereka memiliki refleks haus atau perangsang untuk minum. Ketika mereka merasa haus dan ingin minum, cairan yang diperlukan untuk diminum adalah air susu ibu atau susu formula.

Menurut Anders, ginjal bayi belum matang. Memberi mereka banyak air akan menyebabkan tubuh bayi mengeluarkan natrium akibat kelebihan cairan. Kehilangan natrium dapat mempengaruhi aktivitas otak. Gejala awal dari intoksikasi air adalah iritabilitas (merengek-rengek), mengantuk, dan perubahan mental lainnya. Gejala lain yang dapat muncul adalah menurunnya suhu tubuh, edema atau bengkak disekitar wajah, dan kejang.

Gejala awal yang muncul memang terkadang kurang jelas, sehingga orang tua baru menyadari ketika bayi mereka kejang. Namun, dengan penanganan yang cepat, gejala kejang kemungkinan tidak akan muncul.

Orang tua juga sebaiknya menghindari pemberian susu formula dengan pengenceran yang berlebihan, atau minuman anak yang mengandung elektrolit.

Untuk beberapa kasus, mungkin tepat untuk memberikan air dalam jumlah kecil, misalnya dalam keadaan konstipasi dan pada saat cuaca panas. Namun sebaiknya orang tua mengonsultasikan hal tersebut dengan dokter ahli anak. Pemberian air pada bayi hanya diperbolehkan sebanyak satu hingga dua ons air pada setiap pemberiannya.

Apabila orang tua merasa bayi mereka mengalami intoksikasi air, atau ketika bayi mereka kejang, sebaiknya mereka segera memberikan perhatian secara medis.

Sumber - Liputan6

Propolis, sang antibiotik alami




Apa itu propolis?
Propolis merupakan salah satu produk yang dihasilkan lebah selain madu dan royal jelly, dan dikenal sebagai antibiotik alami. Propolis adalah sejenis resin yang karena bentuknya lengket seperti lem, disebut sebagai bee glue.
Propolis dihasilkan lebah dengan cara mengumpulkan resin-resin dari berbagai macam tumbuhan, kemudian resin ini bercampur dengan saliva dan berbagai enzim yang ada pada lebah sehingga menjadi resin yang berbeda dengan resin asalnya. Propolis digunakan lebah untuk memperkuat sarangnya dari keretakan dan melindungi dari zat-zat yang tidak diinginkan.

Apa saja kandungan propolis?
Berdasarkan analisis kimia, propolis mengandung 55% resin, 30% lilin lebah/wax, 10% minyak aromatis, dan 5% pollen. Selain itu, propolis juga kaya akan berbagai senyawa asam sinamat, alkohol sinnamil, vanillin, asam kafeat fenetil ester, tetokrisin, isalpinin, pinosembrin, krisin, galangin, dan asam ferulat yang rata-rata bersifat antibiotik. Propolis juga mengandung mineral besi, magnesium, seng, dan tembaga; provitamin A, vitamin C, vitamin E; dan senyawa alkaloid, khususnya bioflavonoid

Apa manfaat propolis?

Propolis bermanfaat sebagai antiulser, antibakteri, antivirus, antijamur, anestetik lokal, dan memperkuat sistem imun. Karena berkhasiat antiseptik, propolis digunakan sebagai suplemen bagi mereka yang mengalami gangguan kesehatan akibat infeksi mikroorganisme. Selain itu manfaat lain propolis adalah meningkatkan daya tahan tubuh dari serangan penyakit infeksi, membantu memperbaiki jaringan tubuh yang rusak karena sakit, memelihara kesehatan kulit terutama dari infeksi, meringankan radang tenggorokan, dan membantu penyembuhan gangguan lambung dan pencernaan.
Berbagai uji coba ilmiah di seluruh dunia menunjukkan khasiat propolis sebagai antibiotik dan kemampuannya yang luar biasa melawan infeksi. Chinthalapally Rao, dari Yayasan Kesehatan Amerika, Valhalla, melaporkan dalam Cancer Research (1993) bahwa asam kafeat mencegah pembentukan jaringan bakal kanker pada tikus yang terkena bahan kimia pemicu kanker. Menurut Serkedjieva (1992) ekstrak asam sinamiat dari propolis dapat mencegah virus untuk berkembang biak. Stepanovic, et al. (2003) mengatakan bahwa Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) propolis terhadap bakteri Gram positif adalah 0,078% - 0,25%. Berdasarkan suatu penelitian, Takaisi-Kikuni & Schilcher (1994) mengatakan bahwa terdapat beberapa cara kerja propolis dalam melawan bakteri yaitu dengan menghambat pembelahan sel bakteri dan juga menghancurkan dinding sel bakteri dan sitoplasma.

Karena berbagai macam maanfaat dari propolis, terutama dari efek antibakterinya, maka propolis dapat dijadikan pertimbangan untuk mengobati abses pada gigi, dengan cara memasukkannya ke dalam kavitas.
Semoga bermanfaat

(dari berbagai sumber)

Ciri Organ Hati Kotor dan Makanan Pembersihnya


Hati adalah organ yang vital dari tubuh dan perlu dijaga agar tetap sehat. Cari tahu ciri organ hati kotor dan makanan yang bisa menjadi pembersih hati untuk membantu detoksifikasi secara alami.

Membuat protein sintetis, detoksifikasi racun yang diserap oleh usus dan menghasilkan biokimia yang berperan untuk pencernaan merupakan fungsi penting hati.

Hati juga memainkan peran penting dalam mengatur metabolisme kolesterol, menghasilkan gumpalan darah, menghilangkan kelebihan cairan empedu dari tubuh dan sebagainya.

Disfungsi hati dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang serius. Membersihkan hati dengan bantuan makanan pembersih hati dapat membuat fungsi hati tetap baik dengan kapasitas maksimum.

Infeksi oleh virus seperti hepatitis B, hepatitis C, penyakit metabolik, alkoholisme, deposisi besi yang berlebihan di sel-sel hati adalah beberapa penyebab kerusakan hati.

Cek terlebih dahulu hati Anda untuk melihat apakah ada gejala hati dalam kondisi buruk. Sehingga dapat membantu memutuskan apakah perlu membersihkan hati secara alami atau tidak.

Seperti dilansir dari buzzle, Sabtu (20/3), orang yang memiliki hati tak sehat atau kotor menunjukkan gejala-gejala seperti berikut:

1. Terdapat lingkaran gelap di bawah mata
2. Buang air besar tidak teratur, biasanya tidak setiap hari
3. Terjadi masalah pada kulit, seperti kulit kering, gatal, eksim, jerawat, psoriasis, dan lainnya
4. Perut kembung, penuh gas dan terjadi gangguan percernaan setelah makan
5. Menimbulkan bau badan dan mulut yang tidak enak
6. Merasa lelah, lemah, lesu dan depresi
7. Perut buncit

Orang dengan hati yang tidak sehat biasanya mengalami kelelahan dan rentan terhadap masalah-masalah pencernaan. Untuk menghindari penyakit hati berlemak atau gejala kegagalan hati, perlu dilakukan tindakan pencegahan. Membersihkan hati adalah tindakan pencegahan terbaik untuk menghindari masalah hati.

Membersihkan hati atau menyiram hati adalah prosedur sederhana yang dapat membantu meningkatkan kerja sistem pencernaan. Rasa sakit dan alergi dapat hilang setelah hati bersih.

Sebelum memulai program detoks hati, terlebih dahulu perlu dilakukan pembersihan usus besar. Jika bisa membuang zat-zat limbah dari tubuh, maka detoksifikasi hati akan bekerja dengan baik. Jika membersihkan usus besar tidak dilakukan sebelum detoksifikasi hati, orang bisa merasa lebih buruk dari sebelumnya dan dapat menyebabkan tekanan yang berlebihan pada hati.

Ingat, makanan yang digunakan untuk membersihkan hati harus makanan yang segar dan organik. Makanan pembersih hati yang alami dapat memberikan berbagai nutrisi yang dibutuhkan untuk keberhasilan detoksifikasi hati.

Antioksidan diperlukan untuk menghindari kerusakan pada hati. Jika ada kekhawatiran tentang detoksifikasi hati secara alami, dapat mengonsumsi makanan pembersih hati. Jus sayuran dan jus buah biasa digunakan sebagai minuman pembersihan hati.

Zat-zat dan makanan yang dibutuhkan sebagai pembersih hati antara lain:

1. Susu
2. Selenium
3. Beta karoten
4. Vitamin E
5. N-acetyl-cysteine (NAC)
6. Jahe, bawang putih
7. Beras coklat
8. Kacang-kacangan
9. Kacang merah
10. Jambu mete
11. Beras pasta
12. Vitamin B seperti riboflavin dan niacin
13. Buah yang mengandung vitamin C (anggur, lemon, jeruk)
14. Sayur-sayuran pembersih hati seperti brokoli, kembang kol, kubis Brussel, bawang, dan lobak).

Sumber - Detikhealth

Sunday, October 5, 2008

Hipersensitif Dentin?

Salah satu masalah yang sering dijumpai dalam dunia kedokteran gigi adalah gigi sensitif atau lebih tepatnya hipersensitivitas dentin dengan keluhan sakit pada giginya pada saat-saat tertentu. Rasa sakit biasanya dialami oleh pasien pada waktu makan/minum panas atau dingin atau karena hembusan udara.Menurut bahan-bahan yang saya dapatkan hipersensitivitas dentin dapat terjadi karena terbukanya dentin yang pada umumnya disebabkan karena resesi gingiva akibat kesalahan menyikat gigi sehingga terjadi abrasi dan erosi, gigi berlubang (karies), fraktur gigi.Pada umumnya terjadi di bagian leher (servikal) gigi dengan gejala sakit atau linu apabila terjadi kontak dengan rangsangan dan luar seperti panas, dingin, dehidrasi (hembusan udara) asam maupun alat alat kedokteran gigi misalnya sonde, pinset dan, lain-lain. Kalkulus/karang gigi awalnya menumpuk di daerah leher gigi, dan lama kelamaan gusi dapat menjadi resesi/menurun karena penumpukan kalkulus semakin banyak. Setelah dilakukan scaling (pembersihan karang gigi), biasanya gigi terasa ngilu, karena permukaan akar yang tadinya tertutup oleh karang gigi sekarang bersih dan dentin menjadi terbuka. Hipersensitivitas dentin juga dapat terjadi secara fisiologis (alamiah), yaitu pada orang tua di mana umumnya gusinya menurun atau resesi gingiva. Resesi gingiva ini semakin bertambah seiring dengan pertambahan usia.
Bagi penderita rasa ngilu itu merupakan suatu gangguan dan secara tidak langsung akan menimbulkan masalah lain seperti terganggunya pembersihan gigi dan mulut sehingga kebersihan mulut kurang sempurna yang akhirnya akan menyebabkan kelainan jaringan sekitar gigi. Untuk mencegah terjadinya
kelainan lebih lanjut maka hipersensitivitas dentin perlu dirawat. Cara yang paling efektif untuk menjaga kebersihan mulut secara mekanis adalah dengan menyikat gigi, tetapi menyikat gigi yang terlalu keras akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti luka pada gusi, resesi gusi, atau abrasi pada permukaan akarDalam upaya perawatan, beberapa uji coba klinis telali dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan baik berupa pasta gigi maupun berupa cairan. Beberapa bahan yang telah dicoba untuk perawatan hipersensitivitas dentin dalam bentuk pasta yaitu strontium chiorida, sodium monoflurofosfat, formaldehida dan potasium nitrat

Tips?

Pencegahan : Bahan makanan yang bersifat erosif seperti buah-buahan yang asam, dan minuman beralkohol memegang peranan dalam dentin hipersensitif. Asam yang timbul dari lambung pada orang dengan masalah pencernaan juga rentan untuk mengalami dentin hipersensitif. Selain itu, menyikat gigi dengan pasta gigi yang abrasif juga dapat mengabrasi permukaan dentin di daerah leher gigi. Oleh karena itu, tidak dianjurkan untuk menyikat gigi langsung setelah mengkonsumsi makanan/minuman yang asam untuk mengurangi efek merusak dari asam dan abrasi. Sebaiknya diberi jeda waktu antara 2-3 jam. Menyikat gigi juga tidak perlu dengan tekanan berlebihan dan lakukan dengan arah vertikal dari atas ke bawah.

Pengobatan:

Pada prinsipnya terapi hipersensitif dentin saat ini adalah mengurangi diameter fungsional secara langsung pada tubuli dentin untuk membatasi pergerakan cairan (didalamnya). Empat terapi yang dapat dilakukan adalah:

1. Membentuk smear layer pada dentin yang sensitif dengan melapisi permukaan akar yang terbuka

2. Pengaplikasian bahan, seperti oksalat kompon, yang membentuk endapan tidak terlarut dalam tubuli

3. Pengaplikasian bahan seperti hydroxyethyl methacrylate (HEMA) dengan atau tanpa glutaraldehid yang akan membuat tubuli terisi dengan endapan plasma protein pada cairan dentin

4. Pengaplikasian bonding agent untuk menutup tubuli.

Sensitifitas dentin dapat dikurangi dengan penyinaran laser. Akan tetapi dokter harus berhati-hati terhadap efeknya pada pulpa

Perawatan dentin hipersensitif dapat dilakukan sendiri di rumah atau oleh dokter gigi di tempat praktek.

  • Perawatan di rumah

Pasien dapat mengurangi hipersensitivitas dentin di rumah dengan menggunakan pasta gigi dan obat kumur yang mengandung bahan aktif tertentu. Sebagian besar pasta gigi desensitisasi yang beredar di pasaran saat ini mengandung potassium salt seperti potassium nitrate, potassium chloride, atau potassium citrate. Telah dilakukan penelitian yang menguji efektifitas pasta gigi yang mengandung potassium citrate. Ion potassium diyakini dapat berdifusi ke tubuli dentin dan mengurangi kemungkinan terstimulasinya syaraf, sehingga hipersensitivitas dentin berkurang.

Banyak pasta gigi yang juga mengandung bahan aktif lain seperti fluoride dan bahan antiplak. Aplikasi fluor topikal membuat adanya penghalang di permukaan gigi dengan terbentuknya presipitat kalsium florida (CaF2) sehingga tubuli dentin tertutup. Akibatnya hipersensitivitas dentin dapat berkurang.

Cara menyikat gigi juga patut diperhatikan. Kebanyakan orang banyak berkumur-kumur setelah menggosok gigi. Sebetulnya kumur-kumur tidak perlu terlalu banyak karena kumur dengan air dapat menyebabkan bahan aktif menjadi larut dan terbuang dari mulut sehingga efektifitas dari pasta gigi menjadi berkurang.

  • Perawatan oleh dokter gigi

Untuk mengurangi dentin hipersensitif, dokter gigi mengaplikasikan bahan desensitisasi yang tujuannya untuk menutup tubuli dentin sehingga mengurangi hipersensitifitas. Bahan tersebut dapat mengandung fluoride, atau potassium nitrate, atau bahan aktif lainnya. Namun, agen desensitisasi tersebut biasanya tidak bertahan terlalu lama, efeknya hanya sementara.
Selain itu bisa juga dilakukan perawatan dengan menggunakan bahan adhesive termasuk varnish, atau bagian dentin yang terbuka di daerah leher dan akar gigi ditutup dengan bahan tambal.

Saturday, October 4, 2008

Cermat Pilih Dokter Ahli Kawat Gigi


MEMASANG kawat gigi sebagai upaya memperbaiki fungsi kesehatan dan estetika kini telah banyak dipilih. Namun begitu, minimnya pengetahuan masyarakat tentang bidang kedokteran gigi kerap menimbulkan masalah. Tak sedikit ditemukan kasus malpraktik dari oknum dokter gigi atau orang yang mengaku kompeten dalam bidang gigi.

Untuk mengantisipasi adanya kerugian dalam hal praktik pemasangan kawat gigi, Ketua Umum Ikatan Orthodontis (IKORTI) Prof Dr Eky Soeria Soemantri, SpOrt, menyarankan masyarakat untuk lebih cermat memilih pelayanan pemasangan kawat gigi.

"Banyak dokter gigi atau orang yang mengaku ahli gigi yang sebenarnya tak kompeten melakukan pemasangan kawat gigi. Akibat salah prosedur, akibatnya bisa membahayakan pasien. Hati-hatilah dalam memilih perawatan," ujar Prof Eky di Jakarta, Kamis (29/5) kemarin.

Supaya tidak salah pilih, kata Prof Eky, ada beberapa cara sederhana yang dapat dijadikan panduan. Salah satu yang paling mudah adalah mengetahui bahwa dokter yang berpraktik memiliki gelar spesialis ortodonti atau disingkat SpOrt. "Seorang dokter gigi harus menjalani pendidikan tambahan 3 hingga 4 tahun untuk mendapat gelar ini," ujarnya.

Ortodonti merupakan salah satu dari tujuh cabang kedokteran gigi. Yang tercakup dalam ortodonti adalah oklusi atau terkatupnya gigi geligi atau kedaan di mana gigi rahang atas bertemu rahang bawah.
Kelainan oklusi (maloklusi) dapat dibagi menjadi tiga tingkat mulai dari susunan tidak rata atau berjejal, gigi tonggos (overbite) hingga perkembangan rahang yang tak harmonis. Masalah-masalah seperti itulah yang bisa diatasi oleh seorang spesialis ortodonti.

Prof Eky menambahkan, dengan penanganan dokter spesialis yang tepat, tujuan pengobatan tentu akan bisa tercapai. Lama perawatan dan pemasangan gigi bervariasi antara 1-3 tahun dengan waktu kontrol setiap 3-5 minggu.

"Namun bila datang ke orang yang salah, tentu akibatnya bisa bahaya. Kepala bisa pusing-pusing, gangguan pada rahang, dan biasanya lebih sulit untuk diperbaiki," tandasnya.

Gigi putih tapi ngilu

Kalau gigi menguning, Anda bisa melakukan perawatan whitening trays. Masalahnya, gel yang terdapat di dalamnya bisa membuat gigi ngilu. Coba gunakan whitening trays yang telah diisi pasta gigi untuk gigi sensitif selama 15 menit. Saran Richard Rausch, D.D.S., dokter gigi di New York City, AS, ini mungkin dapat membantu.